MEMBANGUN DEMOKRASI DENGAN MENGEXPLOITASI KEBODOHAN

Fenomena yang paling banyak disorot akhir-akhir ini kaitannya dengan pelaksanaan de-mokrasi di Indonesia adalah Golput alias Golongan Putih. Dibeberapa pemilihan kepala daerah (PILKADA) kecenderungan Golput semakin meningkat prosentasenya, lihat saja Pilkada di DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan mungkin sekali pilkada-pil-kada yang akan datang bahkan pada perhelatan akbar PEMILU 2009 nanti diperkirakan jumlah golput akan meningkat drastis jauh melampaui PEMILU 2004 yang lalu.

Berbagai analisa para pakar yang disampaikan lewat media tulis atau media elektronik prihal kecendrungan golput disebabkan oleh berbagai hal seperti system administrasi kependudukan,sikap skeptis, masa bodoh,bahkan disinyalir ada rekayasa oleh kekuatan politik tertentu, semua mengemuka dalam berbagai dialog, seminar dan diskusi.

Sebenarnya ada apa sih dengan Golput? Golput akronim dari kata Golongan Putih adalah istilah yang lahir dari sikap pembangkangan terhadap sebuah tirani yang dibangun atas nama demokrasi oleh sebuah rezim yang bernama orde baru dan hingga kini terus diwa- risi oleh rezim orde reformasi yang tengah berkuasa.

Karena golput terlanjur diposisikan sebagai bentuk pembangkangan maka golput selalu dikonotasikan jelek, padahal golput bisa berarti netral atau abstain yang nota bene juga sebuah opsi dalam wacana demokrasi.

Secara tidak resmi Golput dilambangkan dengan segilima yang membatasi ruang tanpa gambar dan tulisan, bermakna bahwa Golput tidak berorientasi pada kekuatan politik ma- napun sekaligus plesetan dari nama dan bentuk lambang sebuah organisasi politik yang menjadi symbol kedigdayaan orde baru masa lalu, sebuah karya kreatif yang patut dia-cungi jempol.

Menganggap Golput sebagai sikap tak terpuji dari seorang warga Negara dan bahkan ada kekuatan politik yang mencoba menistakan golput sebagai perbuatan tercela dan berdosa adalah suatu kekeliruan besar yang akan memperburuk citra demokrasi itu sendiri.

Tatkala saya ditanya prihal tren golput yang semakin meningkat dari waktu kewaktu,saya hanya tersenyum sambil mengatakan bagus…bagus itu…hal itu pertanda semakin sehat- nya demokrasi kita dan itu berarti rakyat semakin pintar memaknai arti demokrasi yang sebenarnya, mereka semakin sadar dan paham bahwa memilih itu adalah hak bukan ke-wajiban.

Golput hakekatnya bukanlah suatu bentuk pembangkangan tapi lebih kepada opsi yang didasari oleh kesadaran penuh bahwa membangun demokrasi yang sehat harus steril dari

virus yang bernama “pemaksaan kehendak”, karena jika pemaksaan menjadi instrumen untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan maka demokrasi akan kehilangan makna.

Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, kita harus jujur mengatakan bahwa sela-ma ini kita telah membangun demokrasi dengan mengexploitasi kebodohan, ketidaktahu-an dan ketidak pahaman rakyat terhadap makna demokrasi itu sendiri, mereka tidak me-ngerti apa tujuan mereka memilih dalam setiap pelaksanaan pemilihan umum, mereka menganggap pemilu itu sebuah pesta perayaan dan hura-hura, bahkan konyolnya lagi su-ara mereka diobral dengan sebungkus mie instant.

Walhasil inilah yang mereka “ nikmati “ sekarang, buah dari kekonyolan mereka juga ka-rena keliru memberi suara kepada orang yang salah, akibatnya bisa diduga, lembaga- lembaga Negara dipenuhi oleh koruptor dan opunturir, celakanya lagi orang-orang yang mendapat kepercayaan dari rakyat itu ternyata tidak memiliki kompetensi sebagai Negara

wan, mereka hanya bermodal syahwat kekuasaan untuk memperkaya diri, busyeet…..

Hal yang terpenting dalam demokrasi adalah bagaimana rakyat secara cerdas menentukan sikap terhadap pilihan-pilihan yang ada serta sadar akan hak dan kewajibannya sebagai penentu bukannya sebagai pecundang.

Rakyat harus diberi pencerahan dan pendidikan politik yang proporsional dalam bingkai demokrasi yang sehat, untuk itu golongan-golongan seperti Golput bahkan bila perlu dilembagakan, bukan maksudnya untuk mencegah orang supaya tidak menggunakan haknya dalam pemilu tapi untuk memberi pembelajaran pada rakyat akan hak-hak demo-krasinya, cerdas dalam menentukan pilihannya serta dilakukan dengan penuh kesadaran dan pengetahuan.

Bila seseorang merasa pilihannya didasari keyakinan yang tinggi akan kompetensi dan integritas baik itu terhadap individu maupun institusi maka Golput wajib mendorong yang bersangkutan untuk menggunakan hak pilihnya, namun sebaliknya jika seseorang tidak memiliki wawasan tentang demokrasi, apa maksud menggunakan hak pilih, tidak mengenal siapa persisnya orang yang hendak dipilih maka lebih baik dia urung menggu-nakan haknya daripada salah pilih.

Jika kita salah pilih karena ternyata pilihan kita itu seorang yang tidak amanah dan bah-kan merusak tatanan demokrasi serta nilai-nilai kebangsaan yang luhur maka berarti kita telah ikut andil dalam menghancurkan bangsa ini, sungguh merupakan dosa yang sangat besar yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan kelak.

Demokrasi harus dibangun dengan cara-cara yang elegan bukan dengan mengexploitasi kebodohan, ketidak pahaman serta ketidaktahuan rakyat karena pada hakekatnya subjek dari demokrasi itu tidak lain dan tidak bukan adalah rakyat.

Dinegara-negara demokrasi yang maju dimana rakyatnya begitu cerdas memaknai demok rasi seperti Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa, kecendrungan orang untuk tidak menggunakan hak pilihnya semakin bertambah, bukan berarti mereka memboikot atau masalah registrasi penduduk yang salah juga bukan karena masa bodoh dan skeptis tapi mereka secara sadar ingin memberi bobot pada demokrasi dinegaranya.

Tidak menggunakan hak sejatinya juga adalah hak yang harus dihormati karena jika me- maksakan orang untuk menggunakan hak maka itu bukan demokrasi tapi tirani.

Sssst….. itu kata saya loh! Bukan kata mereka, jangan kuatir wahai para petualang politik yang haus kekuasaan, dinegeri ini kemiskinan dan kebodohan masih mewarnai kehidup-an sebagian besar rakyat, mereka tidak paham tentang makna demokrasi, mereka sangat mudah termakan janji-janji dan bahkan suara mereka bisa dibeli cukup dengan sebungkus mie instant, mudah kan?.

Mereka ( baca; Rakyat) jangan dibuat kelewat pintar agar bisa terus dibodohi dan diberi janji-janji palsu dengan demikian suara mereka dapat diraup dengan mudah, tidak perlu menyiapkan dana yang besar, cukup dengan menggulirkan BLT (Bantuan langsung tunai) maka mereka akan terbuai dalam kemiskinan yang abadi dan penguasa pun akan dipuja bak dewa penyelamat, jangankan suara, jiwa mereka pun siap dipersembahkan untuk sang penguasa, mudah kan?.

Tidak perlu khawatir akan riak-riak kecil yang lahir dari ketidak puasan mereka, jangan hadapi dengan water canon tapi datangkan mobil box yang penuh berisi nasi bungkus,di jamin mereka pasti bungkam, dan penguasa pun kembali dipuja-puja, mudah kan?.

Dinegeri yang berjuluk “ gemah ripa lohjinawi “ ini demokrasi lebih dimaknai sebagai bagi-bagi kekuasaan yang merupakan hadiah dari perut-perut lapar dan otak-otak yang tak berfungsi atau lebih tepatnya “ Demokrasi yang dibangun dari hasil exploitasi kebo- dohan “.

Inilah negeri yang menjadi surga bagi para petualang politik yang syahwat kekuasaannya menggebu-gebu,nyaris tidak ada hambatan berarti untuk meraih kekuasaan baik diekse-kutif maupun dilegislatif semuanya bisa didapatkan dengan menebar pesona dan sedikit kemurahan membagi-bagi mie instant.

Bahkan yang tengah berkuasapun bisa menebar pesona dengan modal dengkul, dengan dalih membantu meringankan beban rakyat miskin, trilyunan rupiah uang Negara dibagi- bagi dengan label BLT ( bantuan langsung tunai ) untuk meraih simpati rakyat. enak…. beneer…….. padahal uang itu berasal dari kantong rakyat juga.

Rakyat kini letih berada diujung penantian datangnya sang juru selamat yang bebas dari kepentingan, dan rela meneteskan darahnya untuk perut-perut yang lapar serta leher-leher yang dahaga.

Tapi yang datang justru masa kampanye partai-partai politik peserta pemilu 2009 yang baru saja ditetapkan oleh KPU ( Komisi Pemilihan Umum ), puluhan Partai Politik kini memasang ancang-ancang untuk menarik simpati rakyat dengan rayuan dan janji-janji manis, semua menjanjikan kesejahteraan untuk rakyat, semua menjanjikan harapan, se- mua menjanjikan perubahan, ahaa…..,perkara ditepati atau tidak itu tidak penting kan rakyat kita cepat lupa, yang penting bagaimana mendapatkan suara mereka dan setelah itu, thank you….bye,bye….emang gue pikirin….

Hendaknya kita belum perlu bermimpi untuk memberi bobot pada demokrasi dinegeri ini karena dibutuhkan dua atau tiga generasi lagi setelah generasi yang sekarang sudah hijrah kealam lain dan digantikan oleh generasi-generasi yang segar dan brilyan serta tidak mu-dah dibohongi, memahami persis makna demokrasi sesungguhnya sekaligus melahirkan pemimpin bangsa yang cerdas dan amanah, Wallahu ‘alam bissawab.

Oleh : Abdul Tawab